Di pemberhentian kesekian
Aku ingin tenggelam di kotamu yang dalam, bersama suasana kesepian
Diantara tangan-tangan yang bersembunyi dalam kelam.
Disaat kepergianmu Berhasil membentur tubuhku hingga nyaris retak,
Tiada lagi raut yang menjadi bisu akibat kata yang berubah
Menjadi metafora yang sedikit menggertak.
Aku tak mau itu terulang.
Seketika, mataku menjadi gedung arsip atas keajaibanmu.
Dan telingaku, menjadi gedung arsip atas cerita megahmu.
Istimewa kamu memang, ucapku
Aku ingin kita saling berbicara dengan wajah yang
Terjerembab dalam diam, berdua, di Bali yang
Menyenangkan dan mulai menua.
Semoga ada waktu untuk kembali dan menetap, di Bali bersama orang yang ku cintai.
LOLLLL
BalasHapusanjai e
BalasHapus